Profiling Kader Ansor; Dari Pencarian Arah, Makna, Sampai Dialektika Gramsci dan Bourdieu

 Dalam sejarah panjang perjalanannya, Ansor telah memainkan peran penting dalam keagamaan maupun percaturan sosial-politik di Indonesia. Sejauh pembacaan penulis, Ansor didirikan sebagai bentuk ikhtiar sekaligus menjawab kebutuhan umat Islam tradisional kala itu dalam menghadapi tantangan zaman—mulai dari kolonialisme, ideologi transnasional, hingga penetrasi nilai-nilai liberalisme Barat. Lahir dari semangat keagamaan dan kebangsaan telah menjadikan Ansor sebagai garda terdepan dalam memproteksi tradisi keislaman ala Aswaja An-Nahdiyah. Selain itu Ansor juga tampil paling terdepan dan aktif dalam upaya penguatan ideologi kebangsaan berbasis Islam yang rahmatan lil ’alamin.

Selain itu, militansi Ansor tampak dalam keteguhan prinsip dan kesiapan mempertahankan nilai—baik secara wacana maupun fisik lewat sayapnya Banser. Peran Ansor-Banser begitu signifikan terutama dalam peristiwa komunisme 1965 hingga terorisme berjubah agama pasca reformasi, di mana Ansor-Banser dianggap sebagai aktor yang turut menstabilisasi keadaan dengan membendung pengaruh ideologi komunis (Choirul Anam, 1985).

Tantangan yang dihadapi Ansor tahun 1934 tentu jauh berbeda dengan tantangan Ansor dewasa kini. Tantangan yang sedang dan akan dihadapi baik saat ini maupun di masa mendatang tentu semakin kompleks. Apalagi kalau berbicara era post modern, di mana sesuatu hal akan mudah tergantikan, terpinggirkan bahkan ditinggalkan dengan suatu hal yang baru jika hal tersebut memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan hal yang lainnya. Termasuk dalam hal ini organisasi Gerakan Pemuda Ansor.

Mendirikan sebuah organisasi itu mudah, yang sulit adalah menghidupinya. Apalagi dalam upaya mempertahankan esensi dan eksistensi kapal besar bernama GP Ansor” ini. Kalau mau esensi pun eksistensinya tetap terjaga, Ansor harus melakukan radikalisasi gagasan-gerakan. Radikalisasi gagasan-gerakan bisa mewujud—salah satunya—melalui ideologisasi ke-Ansor-an sebagai bentuk profiling kader Ansor kekinian dan bahkan jauh ke depan. Sebab suatu organisasi—apalagi kepemudaan—seperti Ansor harus memiliki nilai tawar, tidak boleh dibiarkan pokoe mlaku”. Jika yang terjadi demikian, maka konsep kaderisasi yang cemerlang, peningkatan kualitas dan kuantitas kader hanya utopis belaka.

Jika yang diterapkan adalah tarekat pokoe mlaku”, lambat laun para kader Ansor merasa jenuh dalam berorganisasi. Dengan kata lain, jika berjalannya ataupun kegiatan Ansor hanya begitu-begitu saja tanpa adanya inovasi, kolaborasi, dan—ini yang cukup penting novelty maka bisa saja kader Ansor melirik hal lain yang lebih menarik dan menjanjikan sebagai wadah pengembangan potensi diri. Atau bahkan ikut organisasi kepemudaan Islam lain yang sekiranya memiliki nilai tawar lebih menjanjikan. Kalau demikian yang terjadi, lihat saja sepuluh tahun ke depan minat pemuda Nahdiyin untuk beransor trennya bisa cenderung menurun.

Maka untuk menentukan arah dan pencariaan makna kapal besar ini GP Ansor”, para kader perlu mengkaji dan merefleksikan ulang ideologisasi ke-Ansor-an. Sejauh yang penulis pahami, ideologisasi yang dijalankan sejauh ini berupa pelatihan kader, doktrin loyalitas, dan ritualisasi organisasi. Namun, ideologisasi yang demikian perlu dikembangkan lagi mengingat kebutuhan dan tantangan zaman yang mengharuskan para kadernya memiliki kecakapan intelektual, kematangan spiritual, dan benar-benar hadir di tengah masyarakat.

Ansor, di tengah derasnya arus modernitas dan globalisasi yang kian menggerus batas identitas, pertanyaan tentang siapa kita menjadi semakin penting. Bagi organisasi seperti GP Ansor, pertanyaan ini bukan sekadar reflektif, melainkan strategis yakni bagaimana menjaga bara ideologis tetap menyala tanpa menjadi bara yang membakar diri sendiri.

Sebab dalam dinamika zaman, identitas kultural dan ideologis tidaklah otomatis lestari. Ia butuh regenerasi makna dan pemaknaan ulang agar tidak membatu menjadi slogan yang kosong dan kering makna. Ideologisasi yang coba penulis tawarkan, dalam konteks ini bukan sekadar doktrinisasi, melainkan proses penyadaran kritis tentang posisi, misi, dan arah gerakan dalam sejarah baik kini dan masa depan. Ini sekaligus sebagai kritik penulis terhadap ideologisasi Ansor yang selama ini hanya dipahami sebagai alat dominasi internal, bukan sebagai alat pembebasan.

Dalam kerangka ideologisasi di Ansor, kiranya perlu melihat dari kacamata Antonio Gramsci yang memperkenalkan konsep hegemoni. Konsep hegemoni oleh Gramsci dipakai untuk menjelaskan bagaimana kekuasaan tidak hanya dipertahankan melalui kekuatan koersif, tetapi melalui kepemimpinan moral dan intelektual. Hegemoni, bagi Gramsci, bekerja ketika suatu kelompok sosial mampu meyakinkan kelompok lain untuk menerima nilai-nilainya sebagai sesuatu yang alamiah dan wajar (Antonio Gramsci, 1971).

GP Ansor, dalam konteks Indonesia, dapat dipahami sebagai representasi dari proyek hegemonik Islam Nusantara—sebuah narasai Islam yang moderat, kontekstual, berbasis tradisi lokal, dan inklusif—berupaya menjadi penyeimbang dominasi wacana puritan dan skriptualis yang dibawa oleh kelompok Islam transnasional (Ahmad Baso, 2017). Dalam kerangka Gramsci, Ansor tengah memainkan perannya sebagai intelektual organik, yakni kader-kader yang tidak hanya menjalankan fungsi organisasi, tetapi juga sebagai produsen nilai kebangsaan melalui tafsir keagamaan dan gerakan sosial sebagai makna dalam perjuangan ideologis.

Sementara Pierre Bourdieu berbicara tentang bagaimana praktik sosial dibentuk oleh habitus—kecenderungan batin yang terinternalisasi dari lingkungan sosial. Dalam hal ini, GP Ansor terbentuk dari lingkungan pesantren, tradisi NU, dan interaksi dengan kekuasaan negara. Hal ini menghasilkan modal simbolik berupa legitimasi moral dan religius di hadapan masyarakat muslim tradisional (Pierre Bourdieu, 1977).

Berbekal modal simbolik ini, GP Ansor mampu mengklaim posisinya sebagai representasi Islam Indonesia yang sahih. Belum lagi adanya Banser sebagai entitas semi-militer yang juga memperkuat modal kekuatan di arena sosial-politik. Dengan demikian, GP Ansor tidak hanya dipandang sebagai aktor ideologis, tetapi juga sebagai institusi dengan kapasitas pengaruh langsung di tengah masyarakat.

Untuk itu, ideologisasi di tubuh Ansor perlu diperluas lagi, berkaca pada Gramsci dan Bourdieu yang membaca peluang besar Ansor di ranah ideologisasi. Perluasan itu penulis menyebutnya sebagai proyek ideologisasi. Adapun proyek tersebut, pertama, proyek intelektual yakni upaya membangun epistemologi alternatif melalui kajian kritis terhadap tafsir keislaman, sejarah bangsa, dan realitas sosial. Kedua, proyek kultural sebagai bentuk menghidupkan kembali khazanah lokal—seni, sastra, tradisi lisan—sebagai wahana penanaman nilai. Ketiga, proyek praksis sosial di mana Ansor harus tampil paling depan dalam membela kaum mustadh’afin (yang dilemahkan). Hal ini juga dicontohkan oleh Gus Dur yang tak hanya memikirkan umat Islam, tapi juga menaruh perhatian lebih kepada minoritas dan kelompok marginal (Greg Barton, 2002).

Dalam upaya suksesi proyek ideologisasi di atas, kiranya perlu membuat sebuah strategi ideologisasi. Telah mafhum bahwa ideologisasi Ansor telah dilakukan lewat berbagai jalur, baik formal maupun informal. Mulai dari Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD), Pelatihan Kepemimpinan  Lanjut (PKL) hingga Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) telah menjadi instrumen penting dalam membentuk kader yang ideologis dan organisatoris.

Namun, efektivitas program kaderisasi ini acapkali tergantung pada kualitas instruktur, konsistensi materi, serta kesinambungan pembinaan. Maka, pembaruan kurikulum kaderisasi ideologisasi” yang lebih kontekstual dan interaktif merupakan sebuah keniscayaan. Penggunaan pendekatan studi kasus, diskusi kritis, serta penguatan basis literasi Aswaja bisa menjadi alternatif model pembelajaran yang lebih membumi.

Selain itu, media sosial harus menjadi ruang strategis dalam proses ideologisasi. Di era digital, narasi keislaman dan kebangsaan harus diperjuangkan melalui konten-konten edukatif, video pendek, narasi visual, dan diskusi daring. Ideologisasi tidak cukup dilakukan dalam forum tertutup, tetapi harus menyapa ruang publik digital yang menjadi medan pertarungan gagasan dan opini. Sebab radikalisme tengah merambah dunia digital, medan dakwah dan ideologisasi telah bermigrasi ke media digital. Namun, banyak kader belum sepenuhnya mampu bersaing dalam produksi wacana digital dengan kelompok radikal ( Alamsyah M. Dja’far, 2023).

Maka, Ansor perlu membuat sebuah roadmap untuk menyambut profil baru kader Ansor berdasar ideologisasi di atas. Profil baru ini yang akan menjadi bergaining power” Ansor dalam mewujudkan semangat keagamaan dan kebangsaan, yang tidak hanya melirik Ansor karena kuantitas, namun juga menawarkan kualitas. Spirit nasionalisme tidak hanya dipekikkan dan berhenti pada siapa kita?”, namun juga dengan percaya diri menunjukkan inilah saya”. Ini sejalan dengan wasiat Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Laisal fata man yaqulu kana abi, walakinnal fata man yaqulu ha ana dza.”

Sebab Ansor hari ini adalah potret NU di masa mendatang, siapa saja sepakat ihwal pendapat ini. Untuk itu diperlukan kaderisasi yang masif baik fikrah dan harakahnya serta—ini yang tak kalah penting—pendistribusian kader yang tepat dan merata dalam pelbagai bidang. Karena kader Ansor harus beragam, ada yang bisa ngaji, audiensi, akademisi, petani, pengusaha, dan profesional—ini bisa diartikan ahli di beberapa bidang.

Untuk itu, ke depan kader Ansor harus berdaulat dalam berbagai aspek sosial-masyarakat. Tak hanya lagi bicara soal kedaulatan bangsa, namun juga kedaulatan data, informasi, ekonomi, pendidikan, dan budaya. Semua kader Ansor harus merata terdistribusi, sehingga tak menumpuk hanya pada satu orientasi yakni politik belaka. Maka, jika NU mengambil tagline Merawat Jagat Membangun Peradaban” pada abad keduanya, harusnya tagline tersebut bukan sekadar frasa tanpa makna, akan tetapi menjadi langkah-langkah konkret yang harus dieksekusi kader Ansor.


Oleh Kamim Tohari

PAC GP ANSOR REJOTANGAN

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama