Gerakan Pemuda Ansor atau familier dengan sebutan GP Ansor (Ansor,
red) merupakan salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) yang menghimpun
pemuda-pemuda muslim yang berpaham Ahlusunah waljamaah an-Nahdliyah. NU sebagai
organisasi kemasyarakatan berbasis keagamaan Islam terbesar di Indonesia bahkan
dunia memiliki sumber daya manusia (SDM) yang sangat melimpah—salah satunya GP
Ansor sebagai banom dari NU. Namun, yang demikian tampak paradoksal, organisasi
yang sebenarnya mempunyai human social and human capital yang
menjanjikan ini belum mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki.
Seperti Ansor yang sebagian besar kadernya berada dalam usia
produktif, kisaran 20-40 tahun harusnya menjadi aset besar. Kader-kader Ansor
yang tersebar di penjuru Nusantara, dengan pelbagai latar belakang keahlian dan
potensi ini harus terdistribusi secara merata. Sebisa mungkin kader Ansor harus
berdaulat dalam berbagai aspek kehidupan, selain kedaulatan bangsa, kader Ansor
harus berdaulat dalam data, informasi, ekonomi, Pendidikan, dan kebudayaan.
Sekali lagi harus merata agar tidak menumpuk hanya pada satu orientasi yakni
politik.
Namun, muncul sebilah tanya, dengan kekuatan dan modal sebesar
itu, serta heterogenitas kadernya mampukah memaksimalkannya bagi kemandirian
organisasi? Justru realitas yang terjadi sebaliknya. Organisasi sebesar ini
acapkali masih menggantungkan “kebutuhan rumah tangganya” dengan pihak luar,
seperti pendanaan, program, dan pengambilan kebijakan. Hal demikian patut
dijadikan refleksi bagi Ansor dalam menatap masa depannya.
Kemandirian organisasi bukanlah idealisme hampa belaka, melainkan
sebuah agenda strategis untuk menjaga integritas, kontinuitas, dan relevansi
Ansor dalam dinamika perkembangan zaman utamanya di tengah obesitas informasi.
Kemandirian sebuah organisasi—dalam pandangan saya—dapat dibangun dengan konsep
tiga pilar, yaitu kemandirian finansial, penguatan sumber daya manusia (SDM),
dan kepemimpinan yang visioner. Ketiga pilar ini bukan sebatas idealisme semu
organisasi, namun sebisa mungkin diinternalisasi dan diimplementasikan secara
riil. Ketiganya mampu menjadi fondasi yang kokoh bagi gerakan organisasi yang
bebas dari ketergantungan total dari pihak luar, namun tidak menanggalkan peran
kolaboratif dan kontributif.
Kemandirian organisasi sebagaimana dikutip Media Indonesia dengan
judul Pilar Kemandirian Muhammadiyah, menyebutkan tiga pilar kemandirian
organisasi yaitu ekonomi, politik, dan SDM. Ekonomi merupakan pilar utama untuk
sebuah kemandirian organisasi. Dengan independensi ekonomi, organisasi tidak
akan lagi bergantung dengan pihak luar—apalagi berbau politik praktis—yang
acapkali menawarkan dana untuk menggerakkan roda organisasi, namun di balik itu
ada konsekuensi yang harus dibayar. Independensi ekonomi akan selaras dengan
kuatnya organisasi serta kebijakan pun keputusan tidak terlalu terkotori pihak
luar yang kadang tidak sejalan dengan khitah daripada Ansor.
Kalau kita masih ingat, embrio NU sendiri berangkat dari tiga
pilar, yaitu Nahdlatut Tujjar (ekonomi), Tashwirul Afkar (keilmuan), dan
Nahdlatul Wathan (kebangsaan). Ketiga oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dijadikan
pilar keorganisasian. Nahdlatut Tujjar sebagai pilar ekonomi keumatan,
kemandirian organisasi, dan profesionalitas ekonomi. Tashwirul Afkar sebagai
pilar keilmuan, dalam hal ini untuk mengembangkan SDM yang dimiliki,
memaksimalkan kemampuan intelektual anggota organisasi. Dan yang terakhir
Nahdlatul Wathan sebagai pilar kemerdekaan berbangsa, bernegara, dan cinta
tanah air.
Selain ketiga pilar NU tersebut, Ansor juga berpedoman kepada tiga
prinsip NU yaitu harakah (gerakan), fikrah (keilmuan), dan amaliah (ideologi).
Sebagai kader Ansor, tidak boleh keluar dari tiga koridor prinsip NU tersebut.
Ketiga prinsip NU, yang juga prinsip ber-Ansor di atas, akan coba penulis
maknai dalam ranah kemandirian organisasi. Harakah merupakan sebuah gerakan
yang produktif dari kader-kader ansor. Gerakan produktif sebagaimana dimaksud
yakni mampu produktif baik secara profit pun non-profit. Fikrah sendiri bentuk
pengembangan human resource (SDM) daripada kader-kader Ansor untuk
mengelola kemandirian organisasi dan merupakan efek pasif maupun efek aktif
dari prinsip pertama, harakah. Efek pasif maksudnya fikrah manifestasi dari
harakah, sedangkan efek aktif adalah fikrah yang memanifestasi pada harakah.
Sedangkan amaliah atau ideologi dalam ranah kemandirian organisasi adalah
bentuk idealisme organisasi untuk tidak mudah diintervensi oleh pihak luar,
memiliki arah kebijakan yang independen, dan ideal.
Argumentasi yang penulis bangun di atas tidak berangkat dari ruang
hampa, namun selaras dengan konsep PP GP Ansor masa khidmah 2024-2029, yaitu
Asta Bisa. Asta sendiri merupakan delapan misi presiden terpilih Prabowo
Subianto. Sedangkan BISA adalah anasir
PP GP Ansor yang mewujud dalam empat pilar dalam rangkan mendukung program
ASTACITA dari Presiden Prabowo Subianto. BISA sendiri akronim dari Bisnis,
Inovasi Teknologi dan Informasi, Sumber Daya Manusia, serta Anak Muda.
Ansor dengan basis masa organisasi yang sangat besar tentu memilki
potensi yang besar pula. Seperti yang penulis jabarkan pada bagian awal,
organisasi ini masih belum bisa memaksimalkan modal besar tersebut. Selain
program BISA ini, ketua terpilih Ansor saat ini—Sahabat Addin
Jauharudin—mengusung visi untuk mengembangkan ekonomi organisasi selama lima
tahun masa khidmahnya. Penguatan ekonomi ini merupakan visi PP GP Ansor saat
ini yang ditunjang misi dengan tagline BISA tadi.
Bisnis sebagai sebuah prinsip keekonomian, Inovasi Teknologi dan
Informasi merupakan prinsip keberlanjutan organisasi di era di mana dinamika
perkembangan teknologi informasi yang begitu pesatnya, sumber daya manusia
merupakan kekuatan terbesar organisasi ini, yang harus dimaksimalkan melalui
ketiga prinsip lainnya, dan yang terakhir anak muda. Penulis memaknai anak muda
sebagai jiwa muda, jiwa yang masih penuh ambisi, jiwa yang ingin produktif,
jiwa yang selalu haus akan keilmuan, sehingga dengan jiwa muda ini, ketiga
prinsip lain dapat berjalan maksimal dalam ranah implementasinya.
Benang merahnya, kemandirian suatu organisasi bisa berupa
kesehatan finansial, sumber daya manusia yang terus ditingkatkan, dan
organisasi dapat menentukan peta jalannya secara independen. Pilar kemandirian
finansial ada Nahdlatut Tujjar dalam pilar NU, harakah dalam prinsip NU dan
Ansor, dan ada Bisnis dalam misi PP GP Ansor saat ini. Pengembangan sumber daya
ada tashwirul afkar dalam pilar NU, fikrah dalam prinsip NU dan Ansor, dan
inovasi teknologi informasi serta sumber daya manusia dalam misi PP GP Ansor.
Terakhir, pilar politik atau kebijakan arah organisasi yang independen dan
ideal terdapat dalam pilar Nahdlatul Wathan yang penulis maknai sebagai
kemerdekaan arah kebijakan organisasi, amaliah sebagai ideologi, independensi,
dan idealisme organisasi terdapat dalam prinsip ber-NU dan ber-Ansor serta yang
terakhir terdapat pada jiwa anak muda yang merupakan identitas Ansor dalam misi
PP GP Ansor.
Sebab, sebuah kemandirian organisasi tidak cukup dibangun hanya
dari kekuatan materiel semata. Ia adalah akumulasi dari sinergi antara
kemandirian finansial, SDM yang unggul, dan kepemimpinan yang mampu mengarahkan
kebijakan organisasi secara visioner. Ketiganya saling berkaitkelindan, saling
menguatkan, dan harus dibangun secara persisten mulai dari tingkat pusat hingga
ranting. Menjelang usia satu abad didirikannya Ansor, organisasi ini harus
menghimpun kekuatan dari dalam, menghidupkan spirit kolektif, menumbuhkan kreativitas
kader, dan mengubah tantangan digitalisasi sebagai peluang. Harapannya, ikhtiar-ikhtiar
di atas sedapat mungkin meminimalisir uluran tangan pihak luar agar organisasi
tetap pada khitahnya, yakni menjadi aktor penjaga nilai dan penggerak
perubahan, bukan sekadar penonton bonus demografi yang malah diunduh organisasi
kepemudaan lainnya.
Sebagai tawaran, konsep tiga pilar ini dapat dikembangkan menjadi
modul pembinaan kader dan acuan perencanaan strategis organisasi. Selain itu,
diperlukan penguatan sistem kaderisasi berbasis kewirausahaan, teknologi
digital, dan literasi kebangsaan yang mampu menjawab tantangan zaman. Lebih
jauh lagi, perkembangan teknologi, terutama Artificial Intelligence (AI)
bisa menjadi peluang besar bagi Ansor. Dengan memanfaatkan AI secara cerdas
serta bijaksana, penulis berkeyakinan Ansor bisa dan mampu—setidaknya, pertama,
meningkatkan efisiensi administrasi organisasi (dengan chatbot internal,
analitik data anggota, dan lainnya). Kedua, mengembangkandan menyuguhkan konten
dakwah digital berbasis AI (video pendek, podcast, atau infografis otomatis).
Ketiga, meningkatkan kemampuan kader melalui platform pembelajaran yang adaptif
dan ditunjang pemanfaatan AI guna pemetaan potensi, pengelolaan, serta
pendistribusian kader tepat sasaran.
Walhasil, Ansor tidak boleh hanya menjadi penonton revolusi
teknologi, tapi harus menjadi aktor yang berjiwa kepemimpinan profetik,
visioner, trasformatif, emansipatoris, dan berkomitmen melestarikan alam. Dengan
mengelaborasikan pilar-pilar kemandirian organisasi serta mengintegrasikan teknologi
AI ke dalam eksekusinya, diharapkan independensi Ansor tidak hanya akan
bertahan, namun justru semakin bertumbuh dan kontekstual di era digital saat ini.
*Muhammad
Fauzi Al Azizi, Sekretaris Lembaga MDS Rijalul Ansor, PAC GP Ansor Rejotangan
Penyunting:
Kamim Tohari
