Rejotangan — Dalam rangka memperingati momentum turunnya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an) di bulan suci Ramadan, Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Rejotangan melalui Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor menyelenggarakan kegiatan keagamaan di Masjid Besar Al-Khoir Rejotangan, (KUA Rejotangan) pada Sabtu, 07 Maret 2026. Kegiatan ini diikuti oleh kader-kader Ansor dan Banser se-Kecamatan Rejotangan.
Acara diawali dengan pelaksanaan salat Isya berjemaah yang kemudian dilanjutkan dengan salat Tarawih berjemaah. Suasana khusyuk dan penuh kebersamaan terasa sejak awal kegiatan, ketika para jemaah memenuhi ruang utama masjid. Kehadiran para kader Ansor dan masyarakat setempat menjadi bukti kuatnya semangat kebersamaan dalam memaknai Ramadan sebagai momentum peningkatan kualitas ibadah dan spiritualitas.
Usai salat Tarawih, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan khataman Al-Qur’an juz 30 yang dipimpin oleh Sahabat Abu Sholeh, selaku pengurus Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor. Setelah sebelumnya juz 1-29 dibagi ke para Sahabat pengurus PAC dan beberapa Ranting untuk dikhatamkan di tempatnya masing-masing. Kemudian ditutup dengan pembacaan doa khotmil Qur’an yang dipanjatkan bersama, memohon keberkahan, keselamatan, serta kemantapan iman bagi seluruh kader Ansor-Banser.
Ketua MDS Rijalul Ansor PAC GP Ansor Rejotangan, Sahabat Zainul Munir dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari agenda rutin yang dilaksanakan oleh lembaga MDS Rijalul Ansor sebagai sarana pembinaan spiritual bagi kader Ansor. Menurutnya, kegiatan dzikir, selawat, serta khataman Al-Qur’an tidak hanya menjadi tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi ruang penguatan rohani bagi para kader agar tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman dan keaswajaan.
“Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor memang dirancang sebagai ruang spiritual kader. Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin memastikan bahwa kader Ansor tidak hanya kuat dalam gerakan sosial dan kebangsaan, tetapi juga kokoh secara spiritual,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua PAC GP Ansor Rejotangan, Sahabat Bahrun Ni'am dalam kesempatan yang sama juga menyampaikan pesan kepada seluruh kader agar menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum meningkatkan kualitas diri, baik dalam aspek ibadah maupun akhlak. Menurutnya, kader Ansor tidak hanya dituntut aktif dalam kegiatan organisasi dan sosial kemasyarakatan, tetapi juga harus menjadi teladan dalam menjalankan nilai-nilai keislaman. Ramadan, lanjutnya, adalah waktu terbaik untuk melatih ketakwaan dan memperkuat komitmen pengabdian kepada Allah SWT.
“Di bulan suci Ramadan ini, kader Ansor harus meningkatkan kualitas ibadahnya sebagai wujud ketakwaan kepada Allah SWT. Kekuatan spiritual adalah fondasi penting bagi kader dalam menjalankan peran sosial, keagamaan, dan kebangsaan di tengah masyarakat,” tuturnya.
Sebelum ke acara inti, untuk mencairkan suasana dan menggugah spirit halaqah, ada bagi-bagi buku gratis. Buku yang dimaksud adalah karya dari Sahabat Kamim Tohari, Wakil Ketua PAC GP Ansor Rejotangan (Ketua Lembaga Kaderisasi) yang berjudul "Dari Puasa Sampai Meniti Jalan Kembali". Sebanyak 3 eksemplar buku diberikan bagi kader yang hadir dan menjawab pertanyaan dengan benar.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan mauizah hasanah yang disampaikan oleh Ustaz Zaenal Mualifin, S.H.I yang juga Wakil Ketua Tanfiziyah MWCNU Rejotangan. Dalam tausiyahnya, ia mengajak seluruh kader Ansor-Banser untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengutip ayat Al-Qur’an dari Surah Ali Imran ayat 134, Alladzîna yunfiqûna fis-sarrâ'i wadl-dlarrâ'i wal-kâdhimînal-ghaidha wal-‘âfîna ‘anin-nâs, wallâhu yuḫibbul-muḫsinîn. Pertama, dalam konteks berorganisasi, ayat ini bisa ditafsiri bahwa seorang kader yang saleh senantiasa menginfakkan dari dirinya berupa tenaga, pikiran, waktu, bahkan tak jarang materiel untuk hal-ihwal kebaikan. Secara filosofis, kader Ansor harus menanamkan dalam dirinya untuk selalu berkontribusi (memberi), bukan sebaliknya, ikut Ansor agar mendapatkan sesuatu. Maka berlaku kaidah, "Apa yang bisa saya beri? Bukan saya mendapat apa?" Baik dalam kerangka berorganisasi, bernegara, dan spirit hablun minannas-hablun minalalam wal bi'ah.
Kedua, kader Ansor harus mempunyai kendali atas emosi. Sudah barang tentu dalam berorganisasi acapkali terjadi perbedaan pendapat, ide, dan gagasan. Namun, yang demikian tidak lantas membuat kita gampang marah kepada sesama kader yang tak sependapat, atau mengkritisi (konstruktif) gagasan kita. Untuk itu, sabar harus menjadi karakter setiap kader Ansor, agar jalannya organisasi lebih berwarna dengan adanya perbedaan, namun tak menjadikan perbedaan sebagai dasar disorganisasi.
Ketiga, kader Ansor harus berkarakter pemaaf. Sebisa mungkin harus bisa memaafkan (kesalahan) orang lain. Memang berat, namun upaya untuk melatih sikap ini harus terus diupayakan. Apalagi di bulan Ramadan ini, di mana rahmat dan ampunan Allah seperti diskon tanggal bulan kembar di toko online.
Ia juga menegaskan bahwa Ramadan adalah madrasah spiritual yang melatih kesabaran, pengendalian diri, serta keikhlasan dalam beribadah. Oleh karena itu, setiap muslim diharapkan mampu mengambil hikmah dari bulan suci ini dengan memperbaiki sikap, memperkuat ibadah, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
Kegiatan peringatan Nuzulul Qur’an yang diselenggarakan oleh MDS Rijalul Ansor Rejotangan tersebut berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan kebersamaan. Para peserta mengikuti seluruh rangkaian acara dengan antusias hingga selesai. Tak lupa, kegiatan dipungkasi dengan nguliner nasi kebuli bersama-sama.
Melalui kegiatan ini, PAC GP Ansor Rejotangan berharap semangat mencintai Al-Qur’an dapat terus tumbuh di kalangan kader. Selain itu, kegiatan keagamaan semacam ini diharapkan mampu memperkuat peran Ansor sebagai organisasi kepemudaan yang tidak hanya bergerak di bidang sosial dan kebangsaan, tetapi juga aktif dalam pembinaan spiritual umat. Sehingga diharapkan lahir generasi kader yang tidak hanya tangguh secara organisasi, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan keluhuran akhlak.[]
Pewarta: Kamim Tohari
Editor: Dimas A. P.
