Tulungagung – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Tulungagung resmi melaksanakan inaugurasi pengurus masa khidmah 2025–2029 pada Kamis (12/2/2026) pukul 13.00 WIB di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso Tulungagung. Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Tulungagung, jajaran Syuriah-Tanfiziyah PCNU Tulungagung, jajaran Forkopimda, badan otonom (banom) dan lembaga tingkat cabang, perwakilan Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor se-Kabupaten Tulungagung, serta masih banyak lagi yang tidak dapat dirangkum satu persatu.
Inaugurasi kali ini mengusung tema “Merawat Nilai, Menggerakkan Peradaban”. Inaugurasi ini bukan sekadar seremonial pelantikan nirmakna, melainkan peneguhan arah gerak organisasi untuk empat tahun ke depan. Secara filosofis, “merawat nilai” dimaknai sebagai ikhtiar menjaga warisan ahlussunnah wal jamaah an-nahdliyah—nilai tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (tegak lurus)—yang menjadi fondasi gerakan kader Ansor. Nilai-nilai tersebut bukan sekadar doktrin, melainkan laku hidup yang mengakar pada tradisi, budaya, dan kearifan lokal Tulungagung.
Sementara “menggerakkan peradaban” merupakan panggilan praksis. Ansor Tulungagung didorong untuk tidak berhenti pada retorika keagamaan, tetapi hadir dalam ruang-ruang strategis: pendidikan, sosial, ekonomi, hingga penguatan literasi digital. Peradaban dimaknai sebagai kerja panjang membangun kualitas manusia—berilmu, berakhlak, dan berdaya saing.
Sahabat Muhlashon dalam sambutannya selaku Ketua PC GP Ansor Tulungagung terlantik menegaskan bahwa salah satu poin menarik dalam inaugurasi kali ini adalah dengan menghadirkan seluruh istri pengurus yang dilantik.
"Langkah ini dimaksudkan agar keluarga memahami bahwa para pengurus tidak hanya berjuang untuk kepentingan rumah tangga, tetapi juga untuk agama, masyarakat, dan bangsa. Kehadiran para istri menjadi simbol bahwa perjuangan organisasi tidak dapat dilepaskan dari dukungan keluarga. Ansor menegaskan bahwa kader yang kuat lahir dari rumah tangga yang kokoh, harmonis, dan saling menguatkan," jelasnya.
Menggerakkan peradaban bukan sekadar frasa tanpa makna. Hal ini dibuktikan dengan penandatanganan MoU dengan beberapa pihak terkait demi menjalin sinergitas dan langkah strategis dalam menindaklanjuti kerja-kerja organisasi. "Sebab membangun sinergi dengan mitra strategis dari segenap stakeholder memang penting—pemerintah daerah, TNI-Polri, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan elemen masyarakat sipil. Kolaborasi dipandang sebagai keniscayaan dalam menjawab tantangan zaman," ujar Musaffa Safril (Ketua PW GP Ansor Jawa Timur)
PC GP Ansor Tulungagung juga mengusung cita-cita besar: kemandirian organisasi dan pemberdayaan ekonomi kader. Kemandirian bukan hanya soal pembiayaan kegiatan, tetapi juga kemampuan kader untuk mandiri secara ekonomi, produktif, serta mampu menciptakan ekosistem usaha yang saling menguatkan.
Kepengurusan baru juga diingatkan untuk tidak merasa eksklusif. Kader Ansor harus tetap membumi—hadir di tengah masyarakat, responsif terhadap persoalan riil, dan menjadi solusi atas problem sosial. "Menjadi pengurus Ansor adalah amanah sekaligus tanggung jawab untuk khidmah kepada ulama, umat, bangsa, dan negara dengan terus menjaga nilai keislaman, kebangsaan serta kemanusiaan sekaligus mendorong kemajuan daerah," tegas Gatut Sunu Wibowo Bupati Kabupaten Tulungagung dalam sambutannya.
Semangat transformatif-emansipatoris harus ditekankan sebagai ruh gerakan. Transformatif berarti berani melakukan perubahan ke arah yang lebih baik; emansipatoris berarti membebaskan—memberdayakan kader dan masyarakat dari ketertinggalan, ketidakadilan, dan ketergantungan. "Sebab kepemimpinan adalah amanah, amanah itu untuk melayani, saya optimistis Ansor Tulungagung mampu menjalankannya, karena Ansor itu mempunyai empat potensi besar: intelektual, organisatoris, spiritual, dan inovasi-kreativitas," tutur Hasan Bisri (PP GP Ansor Korwil Jawa Timur).
Dengan inaugurasi ini, PC GP Ansor Tulungagung menegaskan komitmennya untuk terus setia pada nilai, sekaligus progresif dalam gerak. Dari Tulungagung, Ansor menatap masa depan dengan optimisme—merawat nilai, menggerakkan peradaban.[]
Pewarta: Kamim Tohari
Editor: Dimas A. P.
